Akulturasipost,POHUWATO — Dinamika politik di Kabupaten Pohuwato kembali menjadi perhatian. Santo Ali secara resmi menyatakan mundur dari niatnya untuk bergabung dengan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).
Keputusan tersebut bukan semata-mata langkah politik, melainkan bagian dari pilihan profesional yang ingin diteguhkannya sebagai seorang jurnalis.
Saat ditemui di Marisa, Jumat (28/8/2026), Santo mengatakan keputusan itu diambil setelah mempertimbangkan posisi dan tanggung jawabnya sebagai pekerja media. Menurutnya, profesi jurnalistik membutuhkan independensi, objektivitas, serta keberanian untuk menjaga jarak dari kepentingan politik praktis.
Bagi Santo, menjadi wartawan bukan sekadar menjalankan pekerjaan mencari dan menyampaikan informasi. Ada tanggung jawab etik yang melekat, terutama dalam menyajikan informasi kepada publik secara berimbang dan tidak terikat pada kepentingan politik tertentu.
«“Keputusan ini saya ambil demi menjaga marwah profesi dan kode etik jurnalistik. Menjadi seorang wartawan di tengah dinamika daerah saat ini membutuhkan fokus penuh, objektivitas, serta netralitas yang terjaga dari afiliasi politik praktis,” ujar Santo.»
Ia menilai, pilihan untuk tetap berada di jalur independen merupakan konsekuensi logis dari profesinya. Terlebih, ruang jurnalistik di daerah memiliki peran penting dalam mengawal transparansi pemerintahan, menyampaikan suara masyarakat, sekaligus menjadi ruang kontrol sosial.
Meski memilih tidak melanjutkan niat bergabung dengan PDIP, Santo memastikan keputusan tersebut tidak serta-merta memutus hubungan personal dengan orang-orang yang selama ini telah berinteraksi dengannya di lingkungan partai.
Ia menyampaikan apresiasi kepada jajaran pengurus, kader, maupun rekan-rekan di tubuh PDIP yang telah memberikan ruang baginya untuk berproses dan mengenal dinamika politik secara langsung.
«“Hubungan silaturahmi dengan rekan-rekan di partai tentu akan tetap terjaga baik secara personal. Namun, ke depan saya ingin mendedikasikan seluruh tenaga, waktu, dan pikiran sepenuhnya pada ruang kerja jurnalistik, pelayanan informasi publik, serta pencerdasan masyarakat di Gorontalo, khususnya di Pohuwato,” tambahnya.»
Keputusan Santo Ali tersebut sekaligus menegaskan satu garis sikap: profesi jurnalistik dan politik praktis harus ditempatkan pada ruang yang berbeda.
Di tengah tingginya dinamika politik lokal, Santo berharap publik dan seluruh pemangku kepentingan dapat memahami pilihannya sebagai bentuk tanggung jawab profesional, bukan sebagai sikap permusuhan terhadap partai politik.
Ia kini memilih berdiri di jalur independen sebagai pekerja media, dengan komitmen untuk tetap menjalankan fungsi jurnalistik secara objektif, kritis, dan berpihak pada kepentingan publik.
Bagi Santo, menjaga kepercayaan publik merupakan bagian penting dari menjaga marwah seorang jurnalis. Dan pilihan untuk tidak melanjutkan langkah politik praktis menjadi bagian dari upayanya mempertahankan prinsip tersebut.(Tim Redaksi)






