Gorontalo – Jagat media sosial di Gorontalo tengah diramaikan dengan beredarnya sebuah flyer bertajuk “Solidaritas Masyarakat Gorontalo Anti Kezaliman” yang berisi ajakan untuk menghadiri Konsolidasi dan Teklap Aksi pada 26 Oktober 2025 mendatang.
Dalam flyer yang kini menyebar luas di berbagai platform digital tersebut, tercantum seruan kepada masyarakat, mahasiswa, pemuda, dosen, hingga para konten kreator untuk bersatu melawan apa yang disebut sebagai “kezaliman” di Provinsi Gorontalo.
Kegiatan konsolidasi dijadwalkan berlangsung pukul 19.30 WITA, dengan ajakan bertuliskan “Kalian semua diundang” disertai sejumlah tagar seperti #CopotKDM, #UsirKDM, dan #TangkapKDM.
Desain flyer menampilkan ilustrasi seorang orator yang berteriak melalui pengeras suara menghadap figur mengenakan toga rektorat, dengan latar gedung institusi pendidikan dan dominasi warna merah-hitam—yang secara simbolik menggambarkan semangat perlawanan, keberanian, dan penolakan terhadap bentuk penindasan.
Beberapa komentar warganet menilai flyer tersebut sebagai bentuk ekspresi kekecewaan masyarakat terhadap situasi yang tengah terjadi di lingkungan akademik. Unggahan itu memicu beragam tanggapan; sejumlah akun di Facebook, Instagram, dan siaran WhatsApp turut membagikan ulang poster tersebut, bahkan menandai beberapa tokoh pendidikan dan aktivis Gorontalo dalam unggahan mereka.
Saat dikonfirmasi oleh awak media, Koordinator aksi membenarkan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk respon atas keresahan publik terhadap kondisi kebebasan berpikir di dunia kampus. Ia menegaskan bahwa aksi ini adalah bentuk protes terhadap upaya pembungkaman dan penumpulan nalar kritis di lingkungan akademik.
“Kami menolak segala bentuk pembungkaman dan upaya menumpulkan daya pikir kritis, khususnya di dunia pendidikan. Gerakan ini adalah suara dari masyarakat dan individu yang masih merdeka berpikir,” tegas Koordinator Aksi saat diwawancarai.
Ia juga menambahkan bahwa setiap masyarakat dan individu yang ingin bergabung dalam konsolidasi tersebut dapat menghubungi koordinator atau pihak yang membagikan flyer.
“Lokasi konsolidasi dan teklap akan diinformasikan langsung oleh jaringan yang membagikan poster ini. Kami ingin memastikan semua elemen bisa terlibat tanpa ada rasa takut,” ujarnya.
Aksi ini disebut akan menjadi awal gelombang perlawanan terhadap bentuk ketidakadilan dan praktik otoriter yang dinilai mencederai nilai-nilai kebebasan akademik di Gorontalo.






