“Nanasi Menangis: Saat Tanah Sendiri Tak Lagi Memihak”

Sunday, 19 April 2026 - 15:07

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sebuah Tulisan dari jiwa yang porak-poranda oleh Oligarki 

Penulis : Riefqy Athaullah 

Pohuwato—pagi itu datang tanpa harapan. Kabut tipis masih menggantung di atas aliran sungai, tempat warga biasa menambatkan harapan hidupnya. Namun hari ini, yang tersisa bukan lagi semangat, melainkan sisa-sisa luka yang belum sempat sembuh.

Pekan lalu, tenda-tenda mereka dirubuhkan. Bukan sekadar tempat berteduh, tapi ruang kecil tempat mimpi-mimpi sederhana disimpan. Kini, bahkan itu pun telah tiada. Dan hari ini, luka itu kembali dibuka.

Di tepian sungai, beberapa warga masih bertahan. Dengan alat seadanya, mereka mencoba mengais rezeki dari alam yang selama ini mereka kenal begitu dekat. Tapi langkah mereka kembali terhenti. Kehadiran pihak perusahaan bersama aparat menjadi penanda bahwa ruang hidup itu semakin menyempit—bahkan nyaris hilang.

Tak ada perlawanan yang keras. Hanya suara lirih yang pecah di antara ketegangan.

“Lahan kami belum dibayar…”

Kalimat itu menggantung di udara, seperti doa yang tak kunjung menemukan jawaban. Ia bukan sekadar protes—melainkan pengakuan atas ketidakberdayaan.

Satu per satu warga mulai membongkar sendiri talang-talang mereka. Kayu-kayu diangkat perlahan, seolah setiap sentuhan adalah perpisahan. Air yang dulu mengalir membawa harapan, kini hanya menjadi saksi bisu atas kepergian itu.

Tak ada pilihan lain. Mereka mundur—bukan karena menyerah, tapi karena tak lagi punya ruang untuk bertahan.

Di balik semua itu, ada pertanyaan yang terus mengendap, tak pernah benar-benar terjawab: tentang tanah yang mereka yakini belum diselesaikan haknya, tentang hidup yang harus terus berjalan di tengah ketidakpastian, tentang anak-anak yang tetap butuh makan dan sekolah.

Nanasi hari ini bukan hanya tentang konflik. Ia adalah cermin—tentang bagaimana pembangunan bisa terasa begitu jauh dari rasa keadilan.

Di tempat ini, kita belajar sesuatu yang getir: bahwa kadang, menjadi rakyat kecil berarti harus siap kehilangan, bahkan atas tanah yang dulu mereka pijak dengan keyakinan penuh.

Dan ketika suara-suara itu mulai redup, ketika tangis hanya terdengar pelan di antara gemuruh kepentingan, satu hal yang patut kita tanyakan—

Masih adakah ruang bagi keadilan untuk benar-benar berpihak?. 

Berita Terkait

Jumat Berkah YR TIM di Lapas Pohuwato, Kepedulian untuk warga lapas yang Sedang Menjalani Pembinaan
HEBOH! BANGUNAN MUNCUL DI BAWAH JEMBATAN MANUNGGAL KARYA — SIAPA YANG MEMBANGUN?
Putusan PN Limboto dan Dua Putusan MA Jadi Pijakan, Salahudin Pakaya, SH.MH Klaim Kubu Zuriaty Sah
“Masih Banyak Warga Pohuwato Belum Punya SIM, Polisi Buka Jalan: Bhabinkamtibmas Siap Bantu!”
Tiga Rumah Baru Diserahkan untuk Warga Ohoi Ohoirenan, Pemuda Muhammadiyah Apresiasi Respons Bupati Maluku Tenggara
Pembongkaran Camp di Gunung Pani Berujung Ketegangan, Nama Hadoya Disebut dalam Video
Camp Dibongkar, Polemik Belum Usai: Bara Konflik Kembali Menyala di Gunung Pani
FK Buka Suara soal Isu PETI Tomula, Tegaskan Tak Terlibat Transaksi Alat Berat

Berita Terkait

Friday, 11 September 2026 - 10:18

Jumat Berkah YR TIM di Lapas Pohuwato, Kepedulian untuk warga lapas yang Sedang Menjalani Pembinaan

Friday, 11 September 2026 - 00:42

HEBOH! BANGUNAN MUNCUL DI BAWAH JEMBATAN MANUNGGAL KARYA — SIAPA YANG MEMBANGUN?

Thursday, 10 September 2026 - 23:10

Putusan PN Limboto dan Dua Putusan MA Jadi Pijakan, Salahudin Pakaya, SH.MH Klaim Kubu Zuriaty Sah

Wednesday, 9 September 2026 - 03:44

“Masih Banyak Warga Pohuwato Belum Punya SIM, Polisi Buka Jalan: Bhabinkamtibmas Siap Bantu!”

Monday, 7 September 2026 - 08:03

Tiga Rumah Baru Diserahkan untuk Warga Ohoi Ohoirenan, Pemuda Muhammadiyah Apresiasi Respons Bupati Maluku Tenggara

Berita Terbaru