Akulturasipost,Langgur — Peringatan Hari Nen Dit Sakmas yang rutin digelar Pemerintah Kabupaten Maluku Tenggara setiap tahunnya mendapat apresiasi dari kalangan pemuda. Namun, di balik kerangka perayaan itu, Pemuda Muhammadiyah menyampaikan pesan penting: peringatan ini tidak boleh sekadar seremoni tahunan tanpa makna mendalam bagi penegakan nilai adat dan perlindungan perempuan di Kepulauan Kei.
Ketua Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah (PDPM) Kabupaten Maluku Tenggara Rahmat Reliubun menegaskan, komitmen Pemerintah Daerah dalam merawat tradisi ini patut diapresiasi. Langkah konsisten yang diambil Pemda dinilai berhasil menjaga memori kolektif masyarakat atas sosok pahlawan perempuan yang menjadi fondasi hukum adat Larvul Ngabal tersebut.
“Kami mengapresiasi Pemda Kabupaten Maluku Tenggara yang terus konsisten mengagendakan peringatan Hari Nen Dit Sakmas setiap tahun. Ini bukti nyata komitmen daerah dalam merawat sejarah dan identitas budaya kita,” ujar Ketua PDPM Maluku Tenggara.
Namun, di sisi lain, Pemuda Muhammadiyah juga menyampaikan catatan kritis. Penghormatan kepada Nen Dit Sakmas harus diwujudkan dalam tindakan nyata, bukan hanya berhenti pada pesta budaya atau parade pakaian adat semata. Ada tiga poin utama yang menjadi sorotan:
Pertama, perlindungan perempuan dan anak. Spirit Nen Dit Sakmas adalah menjunjung tinggi harkat dan martabat perempuan. Pemerintah dan lembaga adat harus lebih tegas menekan angka kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kabupaten Maluku Tenggara.
Kedua, internalisasi hukum adat. Nilai-nilai hukum Larvul Ngabal—khususnya yang melindungi hak hidup dan kehormatan sesama—perlu ditanamkan ke dalam kurikulum pendidikan lokal agar tidak luntur ditelan zaman.
Ketiga, pelestarian makna, bukan sekadar bentuk. Generasi muda diimbau tidak terjebak pada formalitas perayaan, melainkan mendalami substansi perjuangan Nen Dit Sakmas dalam menjaga kedamaian dan keadilan sosial di tanah Evav.
“Menghormati Nen Dit Sakmas berarti menjaga setiap perempuan di tanah ini agar bebas dari rasa takut dan ketidakadilan. Jangan sampai perayaannya meriah, tetapi nilai dasar yang beliau wariskan justru kita lupakan,” tegasnya.
Peringatan tahun ini diharapkan menjadi momentum evaluasi bersama—bagi pemerintah, lembaga adat, maupun organisasi kepemudaan—untuk terus membumikan nilai-nilai luhur adat Evav di tengah arus modernisasi yang terus bergerak, Tutupnya.(Tim Redaksi)






